Berikut beberapa penyakit tanaman yang disebabkan oleh pathogen jamur:
Embun Tepung
Penyakit embun tepung pada tanaman kersen menyebabkan gejala bercak putih pada atas daun dan bagian bawah, bercak putih tersebut menyerupai tepung. Pengakit embun tepung di tandai dengan adanya jamur Microsphaera diffusa. Hal ini didukung pernyataan Sumartini (2017) tentang gejala penyakit embun tepung mudah dikenali dengan ciri seperti tepung di permukaan atas daun.
Faktor yang mempengaruhi penyakit embun tepung antara lain suhu, kelembaban, dan sinar matahari. Menurut Ilag (1978), suhu dan kelembaban udara yang sesuai untuk perkembangan penyakit embun tepung masing-masing berkisar antara 22−26C dan 80̊ −88%. Sinar matahari juga berpengaruh terhadap epidemi penyakit embun tepung. Pada daerah yang terkena banyak sinar matahari lebih banyak terjadi penyakit embun tepung daripada daerah yang teduh Giertych (2010).
Penyakit embun tepung dapat dikendalikan dengan cara mekanis, kultur teknis, penanaman varietas tahan, biofungisida, dan fungsisida kimia. Contoh pengendalian secara mekanis adalah memetik semua daundaun yang terinfeksi cendawan penyebab penyakit embun tepung.
Bercak daun Coklat
Penyakit bercak daun coklat pada tanaman umbi kayu menimbulkan gejala berupa bercak daun terutama terjadi pada daun-daun di batang bagian bawah (daun tua), tanda penyakit bercak coklat disebabkan jamur Cercosporidium henningsii Alleesch. Hal ini didukung pernyataan Santoso (2009) tentang gejala awal penyakit ini adalah munculnya bercak kecil berwarna coklat merata, selanjutnya di tengah bercak terdapat titik abu-abu namun tepi bercak berwarna coklat kemerahan.
Faktor yang mempengaruhi penyakit bercak daun coklat antara lain suhu, cuaca lembab, dan ketahanan tanaman. Untuk bercak daun awal suhu minimal, optimal, dan maksimal untuk perkembangan berturut-turut adalah 10, 25, 31 ͦC, sedangkan untuk brcak daun ahkir berturut-turut adalah 10, 35, dan 40 ͦC . pada cuaca lembab penyakit berkembang cepat pada tanaman berumur 40-45 hari, sedang pada cuaca kering pada umur 70 hari. ketahanan tanaman juga mempengaruhi epidemi penyakit. Ketebalan jaringan palisade dan ukuran stomata mempengaruhi ketahanan tanaman Sumartini (2008)
Penyakit bercak daun coklat dapat dikendalikan dengan cara menggunakan varietas tahan, sanitasi dan rotasi tanaman, pengendalian dengan fungisida alami, dan pengendalian kimiawi.
Blast
penyakit blast pada tanaman padi menimbulkan gejala penyakit berupa bercak berbentuk elips meruncing belah ketupat di tepinya berwarna coklat dan bagian tengah berwarna putih. Dengan tanda penyakit blast adalah matinya sel daun disebabkan oleh jamur Jamur Pyricularia grisea (Cooke) termasuk dalam kelompok Ascomycetes. Hal ini didukung pernyataan Sopialena. (2018). Tentang gejala penyakit berupa bercak berbentuk elips meruncing belah ketupat di tepinya berwarna coklat dan bagian tengah berwarna putih.
Perkembangan penyakit blas dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya iklim makro dan mikro (musim, suhu dan kelembapan), cara budi daya, lokasi, waktu tanam, dan varietas padi. Penurunan hasil karena penyakit ini bervariasi dari ringan hingga 100% tergantung pada intensitas penyakit Sudir, dkk (2014). Faktor lingkungan Jamur Pyricularia grisea berkembang optimal pada lingkungan dengan suhu berkisar antara 24ºC - 28ºC serta kelembaban udara mencapai 90%. Penyebaran spora dibantu angin dan masih dapat menginfeksi tanaman sehat sejauh 2 km dari sumber inokulum awal. Faktor inang alternatif Inang utama Pyricularia grisea adalah padi, namun dapat memanfaatkan rerumputan (Digitaria cilaris; Echinochloa colona) dan jagung sebagai inang alternatif. Jerami sisa-sisa panen dapat menjadi tempat hidup miselia jamur dan bertahan selama satu tahun.
Faktor pemupukan Pemupukan nitrogen yang tinggi menyebakan jaringan daun menjadi lemah sehingga spora jamur menginfeksi secara optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi. Kombinasi pemupukan nitrogen yang tinggi tanpa kalium dengan jarak tanam yang rapat juga menjadi faktor tingginya serangan blas leher. Penyakit blast dapat dikendalikan dengan cara Penanaman varietas tahan, Pembenaman jerami, Pemupukan berimbang, Waktu tanam yang tepat dan perlakuan benih, dan Pengendalian secara kimiawi.
pdf file
sumber:
Dahiwale, M. A. and N. S. Suryawanshi (2010): Integrated Management of Carbendazim Resistant Alternaria Alternata Using Homoeopathic Medicine. Bionano frontier. 3(2): 330-331.
Listiyowati, S. Widyastuti, U. Rahayu, G. Hartana, A. Jusuf, M. 2009. Hubungan Kemampuan Pergantian Inang dengan Plastisitas Genetika Pada Cendawan Blas Padi (pyricularia grisea). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, Agustus 2009, hlm. 133-14.
Sumartini., dan R. Mudji. 2017. Penyakit Embun Tepung dan Cara Pengendaliannya Pada Tanaman Kedelai dan Kacang Hijau di Malang. Jurnal Litbang Pertanian Vol. 36 No. 2 Desember 2017: 59-66
Saleh, N. 2016. Penyakit-penyakit Penting Pada Ubi Kayu: Deskripsi, Bioekologi, dan Pengendaliannya. Malang. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Sudir, A. Nasution, Santoso, dan B. Nuryanto. 2014. Penyakit Blas Pyricularia Grisea Pada Tanaman Padi dan Strategi Pengendaliannya. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.
Santoso dan A. Nasution. 2008. Pengendalian penyakit blas dan penyakit cendawan lainnya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Sopialena. 2018. Pengendalian Penyakit Blast (Pyricularia Oryzae Cav.) Pada Padi Menggunakan Ekstrak Lengkuas (Alpinia Galanga Linn.). Jurnal “Teknologi Lingkungan”, Volume 2 Nomor 01, Juni 2018
Y.L. Pei, T. Shi, C.P. Li, X.B. Liu, J.M. Cai dan G.X. Huang. 2014. Distribution and pathogen identification of cassava brown leaf spot in China. Environment and Plant Protection Institute, Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences. Haikou, Hainan, China.
Komentar
Posting Komentar